-Register for Learning.
-Read forum rules before register.
-Register for see full topics.
*Active on Forum*

Tumpeng Sewu di Banyuwangi Festival 2014

Share

robot
Seng Duwe Omah
Seng Duwe Omah

Jumlah posting : 355
Reputation : 0
Join date : 30.10.12
Age : 28
Lokasi : banyuwangi

Tumpeng Sewu di Banyuwangi Festival 2014

Post by robot on Thu Sep 25, 2014 3:35 pm

BANYUWANGI –Masih dirangkaian Banyuwangi Festival 2014, event budaya yang berlatarkan Desa Kemiren, kembali digelar. Kali ini masyarakat using akan menggelar ritual adat desa yang bertajuk Tumpeng Sewu, kamis (25/9) usai sholat magrib.

Tumpeng Sewu adalah selamatan massal yang digelar setiap satu Dzulhijah oleh masyarakat kemiren. Tujuannya, bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahanan yang mereka terima.

Tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala dan menghindarkan dari segala bencana dan sumber penyakit. “Kalau ritual itu ditinggalkan, maka akan berdampak buruk kepada masyarakat Desa Kemiren, sehingga warga Osing menjaga tradisi itu hingga turun temurun,” kata Timbul, Sesepuh adat Desa Kemiren Juhadi Timbul.

Ritual tumpeng sewu ini ditandai dengan kegiatan dimana setiap rumah membuat nasi dalam bentuk kerucut dengan lauk pauk khas Using, yakni pecel pithik (ayam panggang dicampur kelapa, red) ditaruh di depan rumah.

Bentuk mengerucut ini memiliki makna khusus yakni petunjuk untuk mengabdi pada sang pencipta (hablum minallah) di samping kewajiban untuk menyayangi sesama (hablum minannaas). Sementara pecel pithik itu mengandung pesan moral yang bagus, yakni ngucel-ucel barang sithik. Dapat juga diartikan mengajak orang berhemat dan merasa cukup dengan harta yang dimiliki meskipun sedikit.

Dengan diterangi oncor ajug-ajug (obor bambu berkaki empat), tumpeng sewu ini menjadi sebuah ritual yang khas dan tetap sakral. Sebelum makan bersama, warga desa Kemiren mengawalinya sholat maghrib berjamaah dan doa bersama. Usai makan bersama, selepas isya’, warga membaca Lontar Yusuf hingga tengah malam di rumah salah seorang tokoh masyarakat setempat. Lontar Yusuf yang merupakan rangkaian dari ritual ini menceritakan perjalanan hidup Nabi Yusuf.

Selain tumpeng sewu, untuk mewujudkan rasa syukur ini warga desa melakukan ritual menjemur kasur (mepe kasur) secara masal. Uniknya, semua kasur yang dijemur berwarna hitam dan merah. Menurut Timbul, warna merah dibagian samping ini melambangkan keberanian dan warna hitam di bagian atas kasur ini mengandung arti langgeng atau utuh. “”Sebuah rumah tangga di Kemiren harus berani menegakkan kebenaran dan keutuhan,” kata Timbul.

Proses mepe kasur ini lakukan pagi hari, yakni begitu matahari terbit seluruh warga bergegas mengeluarkan kasur ke depan rumah masing-masing, sambil membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman. Tujuannya agar dijauhkan dari balak dan penyakit. Setelah matahari melewati ubun-ubun, semua kasur harus dientas atau dimasukkan. Konon jika tidak segera dimasukkan kebersihan kasur ini hilang. Masyarakat Kemiren meyakini tradisi ini Warga Using beranggapan bahwa sumber penyakit datangnya dari tempat tidur, sehingga mereka menjemur kasur di halaman rumah masing - masing agar terhindar dari segala jenis penyakit.

Sebagai penutup mepe kasur ini sore harinya digelar arak-arakan barong. Menjelang selamatan tumpeng sewu, masyarakat Kemiren melakukan selamatan di makam Buyut Cili. Buyut cili adalah salah satu tokoh yang masyarakat oleh para pawang dan pemangku baru tua.
Rangkaian Festival Tumpeng Sewu 2014:

Pukul 09.00 – 14.00 WIB, Mepe Kasur
Pukul 09.00 WIB atraksi gandrung dan kuntulan
Pukul 13.00 WIB Nyekar di Makam Buyut Cili
Pukul 16.30 WIB, Penanaman Bibit Duren Merah di Pertigaan Desa Wisata Using (DWU)
Pukul 18.00 – Selesai Selamatan Tumpeng Sewu
Pukul 20.00 WIB Mocoan Lontar Yusuf.


    Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 6:10 am