-Register for Learning.
-Read forum rules before register.
-Register for see full topics.
*Active on Forum*

Kiat Bupati Anas Pasca Pemerintahan Baru

Share

robot
Seng Duwe Omah
Seng Duwe Omah

Jumlah posting : 355
Reputation : 0
Join date : 30.10.12
Age : 28
Lokasi : banyuwangi

Kiat Bupati Anas Pasca Pemerintahan Baru

Post by robot on Wed Oct 22, 2014 9:21 am

Banyuwangi- Pasangan Presiden-Wakil Presiden, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, telah resmi dilantik pada 20 Oktober 2014. Sehari setelah dilantik, wacana prospek ekonomi di bawah kendali Joko Widodo mulai diperbincangkan. Salah satunya diskusi di kabupaten paling timur Pulau Jawa. Dalam seminar bertajuk 'Ekonomi Pasca Pemerintahan Baru' yang digelar di Hotel Ketapang Indah, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, menjabarkan secuil strategi membangun daerah berdasarkan potensinya. "Saya enggak mungin copy paste policy pembangunan dari Kota Batu dan Malang. Banyuwangi daerahnya luas dengan potensi yang beragam," katanya saat membuka seminar, Selasa (21/10).

Roda pembangunan ekonomi, kata dia, berjalin kelindan dengan arus investasi dan penguatan Sumber Daya Manusia lewat jangkar pendidikan yang kokoh. Termasuk memberikan ruang bagi Universitas Airlangga mendirikan kampus di Banyuwangi dan mendirikan sekolah pilot. "Investasi dan SDM tidak boleh berhenti. Kami bawa jangkar pendidikan yang kuat ke daerah untuk percepatan pembangunan," kata Bupati Anas di hadapan hadirin.

Pihaknya mendorong pula pengembangan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata. Dalam dua dekade, Anas menganalisa prospek dua sektor ini menunjukkan tren kenaikan di tengah merosotnya sektor lain. Anas ingin menjadikan Banyuwangi salah satu destinasi wisata dengan segmen pasar khusus berdasarkan potensi alamnya. Karena itu, ia berkukuh menolak izin pendirian tempat karaoke, losmen, dan diskotik di Bumi Blambangan. "Orang kalangan menengah ke atas itu ingin mencari suasana alami saat rekreasi. Ini yang ingin saya tawarkan di Banyuwangi," ujarnya.

Strategi lain buat membangun daerah dengan melibatkan swasta alias konsep private partnership. Cara ini dinilai lebih efektif di tengah keterbatasan APBD. Beberapa proyek yang melibatkan swasta di Banyuwangi contohnya: pembangunan bandara Blimbingsari, infrastruktur jaringan internet se kabupaten, perbaikan jalan, dan pembangunan fiber optic di kecamatan dari dana CSR PT Telkom senilai Rp 10 miliar.

Sejak 2012, ia fokus memperkuat sektor jasa, perdagangan, dan hotel dengan mempertahankan sektor pertanian. Sektor jasa dan perdagangan dianggap paling besar menyerap tenaga kerja tapi masih berkontribusi kecil terhadap Produk Domestik Regional Bruto pada 2010. Hasilnya lumayan. Angka kemiskinan menukik turun ke 9,5 persen dari 20 persen pada 2010 seiring kenaikan angkatan kerja menjadi 11 persen terhadap PDRB 2013. Pertumbuhan ekonomi juga merata seiring pendapatan per kapita sebesar Rp 21,6 juta pada 2013. "ICOR di Banyuwangi rendah, artinya investasi di sini cukup baik," Anas menambahkan.

Tak luput, Anas turut mewaspadai spekulan tanah seiring pertumbuhan ekonomi yang positif di Banyuwangi. Menurut dia, membaiknya perekonomian membuka peluang pemilik modal buat menguasai tanah untuk kemudian dijual lagi dengan harga lebih mahal. Pihaknya akan memberikan sanksi sesuai aturan bagi penguasa tanah yang tidak segera memanfaatkannya dalam tempo dua tahun sejak tanah dikuasai.

"Banyuwangi enggak boleh dikuasai spekulan tanah. Saya enggak ingin seperti di Banten, tanah-tanah hanya dikuasai segelintir orang untuk tujuan pribadi," kata Bupati Anas.

Bupati Anas telah menyusun strategi mengantisipasi maraknya spekulan tanah. Misalnya penyusunan detail pemanfaatan tata ruang di tingkat kecamatan menyesuaikan program besar yang digariskan dalam Perda Rencana Tata Ruang Wilayah. Di perda ini, kata dia, disusun perencanaan pemanfaatan ruang untuk mendukung proyeksi pembangunan di Banyuwangi.
Pakar ekonomi, Faisal Basri, mengapresiasi langkah Bupati Anas dalam memimpin daerah. Ia sepakat dengan Bupati Anas bahwa daerah harus mengembangkan ekonomi berdasarkan potensinya. Banyuwangi, kata dia, salah satu daerah dengan local leader yang mampu menumbuhkan ekonomi daerah tanpa bergantung pemerintah pusat. Termasuk tak hanya mengandalkan APBD. "Daerah jangan berharap banyak pada Jokowi. Potensi itu harus digarap sebaiknya," kata Faisal.

Bila banyak pemimpin daerah seperti Bupati Anas, kata Faisal, lebih mudah mencari jalan keluar bagi persoalan yang membelit daerah. Faisal mencontohkan pembangunan infrastruktur jalan sepanjang 300 kilometer dalam kurun satu tahun dengan melibatkan swasta. “Ini harus dicontoh ditengah keterbatasan APBD,” ujar Faisal.

    Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 11:00 am