-Register for Learning.
-Read forum rules before register.
-Register for see full topics.
*Active on Forum*

Penghayat PAMU, Tradisi Ditengah Kemajemukan

Share

robot
Seng Duwe Omah
Seng Duwe Omah

Jumlah posting : 355
Reputation : 0
Join date : 30.10.12
Age : 28
Lokasi : banyuwangi

Penghayat PAMU, Tradisi Ditengah Kemajemukan

Post by robot on Fri Oct 31, 2014 10:49 am

Menggunakan beskap tradisional jawa yang membalut tubuh dengan senyum tersungging, sosoknya tergambar pada banner di satu sudut pendopo Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utomo (PAMU). Raut wajahnya kalem menyiratkan kedamaian dan kewibawaan. Disekelilingnya, ratusan orang meriung. Aroma kemenyam menyeruak menambah riuh suasana. Sosok Raden Mas Joyo Purnomo, almarhumah sekaligus pendiri PAMU, seolah hadir dalam ritual penghayat kepercayaan PAMU di malam puncak peringatan tapeladaman Syuran 1948 tahun Jawa di Dusun Tojo Kidul, Kecamatan Temuguruh, Kecamatan Sempu, Senin malam (27/10).

Sepuluh meter dari pendopo, berdiri panggung wayang kulit dengan dalang Ki Siswoyo. Mengambil cerita bertema: Kawedaring Jagad Pitu, pengikut PAMU menggelar pertunjukkan tradisional wayang kulit saat malam puncak peringatan tahun baru Jawa 1948 yang jatuh pada Senin wage, malam Selasa kliwon. Dalam kalender Masehi jatuh pada 27 Oktober 2014.

Tiga hari berturut-turut sebelum malam puncak peringatan Syuran, pengikut PAMU mencuci pusaka, menggelar jaranan, dan tirakatan pada malam hari kedua Syuran. Pagelaran wayang kulit sebagai paripurna di hari ketiga bulan Syuran. Tradisi puluhan tahun di dusun setempat yang masih lestari di tengah arus modernisasi.

Ketua Pinisepuh Dewan Pengurus Pusat PAMU, Gunari, mengatakan PAMU merupakan aliran penghayat kepercayaan yang mendapat atensi dari pemerintah pusat. Dalam sarasehan nasional pada 12 Oktober lalu misalnya, ia mengaku dipanggil Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk dimintai mendukung program-program pemerintah baru lewat perilaku positif dalam keseharian membentuk karakter bangsa.

Di tingkat kabupaten, Gunari mengucapkan terimakasih atas perhatian Pemkab Banyuwangi menjamin rasa aman bagi pengikut PAMU menjalankan adat tradisinya. Ia mengajak pengikut PAMU menjadi warga negara yang baik. "Mari sepenuhnya diperhatikan. Kepada pak Bupati dan Wabup Banyuwangi, saya ucapkan terimakasih banyak atas perhatiannya. Termasuk pada saudara-saudara kami yang bersedia menjadi panitia acara dan Polsek Sempu," kata Gunari.

Yusuf Widyatmoko, Wakil Bupati Banyuwangi, mengapresiasi ritual adat bagi pengikut PAMU di Bumi Blambangan seiring kemajemukan budaya. Pemkab Banyuwangi, kata Yusuf, berkomitmen mendukung penuh upaya pelestarian budaya. Ia mendengar, puncak peringatan Syuran di Dusun Tojo Kidul dihadiri para penghayat kepercayaan PAMU dari luar Banyuwangi. "Ini menunjukkan perguruan PAMU telah tersebar. Pak Bupati sangat memperhatikan, beliau mengutus saya harus hadir. Ini bentuk dukungan pak bupati terhadap keberadaan perguruan ini," kata Wabup Yusuf.

Kemajemukan, kata Yusuf, ibarat pisau bermata dua. Menyimpan kekuatan besar sekaligus berpotensi memicu kerawanan sosial. Kekuatan tumbuh bila mampu bersatu buat menghadapi segala tantangan dan persoalan. Adapun kelemahan muncul manakala tidak bisa menggalang dan memelihara persatuan. "Gilirannya tidak mampu mewujudkan cita-cita bangsa," kata Yusuf.

Lewat peringatan Syuran di padepokan PAMU, Wabup Yusuf kembali mengajak para warga untuk bertekad dan berkomitmen membangun Banyuwangi sesuai profesi masing-masing. Ia meminta ditumbuhkan spirit mencintai, memiliki daerah, gotong royong, rukun, dan guyub sebagai modal mewujudkan Banyuwangi lebih baik.

"Pembangunan adalah tugas kita bersama. Pemkab Banyuwangi tidak sanggup menjalankan roda pemerintahan dengan baik jika tanpa peran aktif elemen masyarakat. Mari kita ciptakan Banyuwangi yang aman, damai dan bermartabat menuju kesejahteraan," Yusuf berpesan.

Usai beramah tamah, Gunari menyerahkan gunungan kepada Wabup Yusuf Widyatmoko. Wabup Yusuf lantas menyerahkan gunungan kepada dalang Ki Siswoyo. Prosesi dilanjutkan dengan selametan syuran sebelum wayang kulit digeber semalam suntuk. Sidik Utomo, seorang pengikut PAMU, mengatakan perguruan ini mengajarkan dua prinsip keutamaan menjalani hidup. "Kaweruh kamanusan dan kaweruh kasungatan," kata Sidik. Adapun pengertian Purwa Ayu Mardi Utama kira-kira: Wiwata selamet kenceng ing pambudi wong tanpo cacat.

    Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 8:05 am